Surakarta – Lembaga Kursus dan Pelatihan dituntut untuk bisa beradaptasi dengan era digital dan dapat menggunakan teknologi yang terus berkembang pesat saat ini. Tantangan revolusi 4.0 harus bisa diikuti oleh lembaga kursus dan pelatihan dengan berpikir bagaimana memiliki sikap produktif dan bersaing di era teknologi yang canggih.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Paud dan Dikmas, Harris Iskandar, saat menyampaikan sambutan pada kegiatan Orientasi Teknis penyelenggaraan program PKW kepada para pimpinan lembaga penyelenggara di Hotel Lor In Solo, Jl. Adi Sucipto No 47, Kab. Surakarta, Jawa Tengah, Rabu 28/08/19.

Foto bersama Dirjen Paud dan Dikmas, Harris Iskandar denga Peserta Kegiatan Orientasi Teknis

Menurut Harris, era serba cepat dengan teknologi tinggi sekarang ini menjadikan masyarakat harus dapat bersaing secara terbuka. Untuk itu Lembaga Kursus dan Pelatihan menurutnya perlu memikirkan cara bagaimana peserta didik setelah mengikuti pembelajaran di lembaga kursus dapat mandiri menciptakan peluang kerja di sekitarnya.

“Apabila kita tidak mengikuti kecanggihan teknologi saat ini maka kita akan ketinggalan zaman dan bahkan dapat terbirit-birit / tergopoh-gopoh.” Ungkapnya.

“Tantangan teknologi robotic saat ini marak sekali diciptakan di negara maju dengan kemampuan seperti manusia. Robot Sofia yang mampu berbicara dan bahkan memiliki kecerdasan. Bila kita tidak bisa mengikuti perkembangan zaman saat ini kita bisa sangat tertinggal. Tugas – tugas manusia dapat digantikan dengan robot.” Jelasnya sembari memberikan contoh.

Tantangannya sekarang ini menurut Harris, seperti pekerjaan yang sifatnya sentuhan manusia  seperti tukang pijat, dokter gigi yang dapat bertahan akan tetapi tidak menutup kemungkinan semua itu dapat dilakukan oleh robotic kedepannya.

Harris mendorong Lembaga Kursus dan Pelatihan untuk mengarahkan peserta didik agar menggunakan teknologi digital guna memudahkan ke arah yang lebih produktif.

Lembaga kursus dan pelatihan jelas Harris, perlu memikirkan jangka panjang melihat era jaman canggih, bagaimana peserta didik mampu dengan kontinyu memakai teknologi untuk memudahkan penjualan produk di masyarakat.

“Lembaga kursus harus dapat berubah, harus mengikuti jaman digital karena jaman sudah berubah, apapun di era kemajuan saat ini tidak lepas dari kecanggihan teknologi.” Tegasnya.

Lembaga kursus dan pelatihan kata Harris, perlu menciptakan inovasi dan pengembangan agar dapat bersaing dengan teknologi saat ini.

“Di seluruh negara jika dilihat dalam genggaman negara adi daya Amerika. Negara Amerika memiliki tingkat kecanggihan yang sangat tinggi bila tidak dapat mengikuti maka kita akan tertinggal.” Tuturnya

“Lembaga Kursus dan pelatihan perlu menggandeng dan bekerja sama dengan UMKM, lembaga keuangan dan dunia industri. Gunakan teknologi dengan menggunakan kursus daring, pembelajaran jarak jauh kepada peserta didik dan mampu dilakukan oleh peserta didik di manapun berada.” Jelasnya lagi.

Selain itu, Harris menjelaskan juga terkait dengan keterampilan yang perlu dimiliki oleh peserta didik pada abad 21 ini. yang kuncinya adalah quality karakter, yaitu: kinerja, etos kerja, tidak mudah menyerah, tepat waktu lebih ditingkatkan. Selain itu menurutnya, harus memiliki keberanian, berani mengambil resiko, memiliki jaringan, memiliki inovasi, dan mengasosiasikan pengalaman pengamatan guna kemajuan usaha yang akan dijalankan.

Harris juga menyoroti kebijakan Direktorat Jenderal terkait bidang kursus yang harus update misal kursus menjahit menjadi fashion lebih bersifat modern dan kekinian.

“Menguatkan dapodik, Tata kelola harus transparan akuntable, Orientasi pada hasil, Izin perlu diperhatikan, jangan berhati dua harus memilih Dinas Pendidikan atau Kemenaker, Teknologi dimanfaatkan untuk hal-hal yang positive misal Spa Online.” Tuturnya.

Sekedar diketahui, kegiatan Orientasi Teknis penyelenggaraan program PKW ini diikuti oleh 99 pimpinan lembaga penyelenggara program PKW dari Propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta yang ditetapkan melalui seleksi di tingkat pusat.

Penulis: Tim pengelola web Ditbinsuslat Kemendikbud