Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Ditbinsuslat Kemendikbud RI) terus mengalakkan berbagai program untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, dan usaha mandiri, khususnya bagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah, tidak mampu, yang tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, atau lulus sekolah namun menganggur.

Salah satu program yang terus dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan adalah Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK). Program PKK ini telah dilaksanakan oleh Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) di seluruh Indonesia yang ditunjuk oleh Ditbinsuslat Kemendikbud RI

Menurut Kasubdit Program dan Evaluasi Ditbinsuslat, Drs. Muhammad Nuh bahwa program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) ini fokus pada orientasi pengembangan keterampilan kerja yang diberikan kepada peserta didik agar memiliki kompetensi di bidang keterampilan tertentu yang sesuai dengan peluang kerja yang dibutuhkan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Kegiatan Pembelajaran Program PKK

Ditbinsuslat menurut M. Nuh telah meluncurkan program PKK di seluruh Indonesia yang dari tahun ke tahunnya peserta didik yang ikut terus meningkat secara signifikan.

“Sejak tahun 2015, Ditbinsuslat berhasil membelajarkan sebanyak 40 ribu orang angkatan kerja muda untuk mengikuti Pendidikan Kecakapan Kerja. Lalu pada tahun 2016, jumlah peserta didik yang sudah mengikuti program ini mengalami kenaikan 39,59% sebanyak 55,587 orang. Kemudian pada tahun 2018 jumlah yang mengikuti program PKK ini meningkat signifikan menjadi 62.390 orang.” Ungkap M. Nuh dalam keterangannya di Kantor Kemendikbud, (Selasa, 20/08/19).

“Dengan demikian, selama 4 tahun terakahir, Ditbinsuslat telah membelajarkan sebanyak 207.507 orang masyarakat Indonesia. Dan tahun 2019 ini masih terus berjalan program PKK ini.” Tuturnya lagi.

Nuh menjaskan bahwa program PKK merupakan bantuan pemerintah yang ditujukan kepada masyarakat tidak mampu, putus sekolah dan menganggur serta masih berusia produktif, yaitu usia 16 tahun hingga 40 tahun untuk memberikan bekal keterampilan.

Selain itu, program PKK ini juga untuk memotivasi Lembaga Kursus dan Pelatihan supaya memberikan kontribusi bagi masyarakat agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan peluang kerja.

Kegiatan Orientasi Teknis Program PKK

“Melalui program ini peserta didik dibekali berbagai jenis keterampilan dan etos kerja sesuai kebutuhan DUDI. Peserta didik yang mengikuti program ini diharapkan memiliki kompetensi di bidang keterampilan tertentu setingkat operator dan teknisi, yang dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi.” Jelas M. Nuh.

Ditbinsuslat juga telah meluncurkan program Pendidikan Kecakapan Kerja Unggulan (PKKU) yang pesertanya terbatas.  Program PKKU ini diselenggarakan menggunakan pendekatan “4 in 1” yakni 1) Analisis kebutuhan pelatihan (training need assessment) berbasis pada job order/demand letter attachment, 2) Pelatihan berbasis kompetensi (competency-based training/CBT), 3) Sertifikasi kompetensi (certificate of competency), 4) Jaminan penempatan kerja sesuai job order/demand letter attachment.

Nuh menyampaikan program PKK Unggulan ini terus meningkat dari tahun ke tahunnya, di mana jumlah peserta didik program PKKU yang dibelajarkan pada tahun 2016 sebanyak 320 orang, kemudian bertambah menjadi 414 orang pada tahun 2017, dan 540 orang pada Tahun 2018.

“Setidaknya sudah sebanyak 1.274 orang telah dibelajarkan oleh Ditbinsuslat selama 3 tahun terakhir.” Ungkapnya.

Sekedar diketahui, lembaga yang dapat menyelenggarakan program PKK yaitu Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) atau satuan pendidikan nonformal lainnya seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang telah menjadi satuan PNF; lembaga pendidikan yang memiliki program kejuruan atau vokasi, dan organisasi kemasyarakatan yang memiliki program pendidikan keterampilan.